Orang yang pandai

 pict0001.jpg

Orang yang pandai itu orang yang menyediakan bekalnya sebelum mati

Ada sebuah cerita tentang pendekar buta yang memiliki kekuatan luar biasa. Dalam sebuah perkelahian ia mampu melumpuhkan musuh-musuhnya dengan jurus yang mengagumkan. Kebutaan tidak menjadi sebab kelemahannya. Hal itu justru mengaktifkan kekuatan keempat inderanya yang masih tidur. Kelemahan pada pengihatannya menjadikan indera-inderanya yang lain menjadi semakin tajam. Maka kekuatannya pun menjadi berlipat ganda dengan kepekaan yang sangat menakjubkan.

Kita tidak tahu apakah orang seperti itu ada di dunia nyata atau tidak. Maksud saya pendekar buta yang menang berkelahi melawan dua puluh orang tanpa ikut mati terbunuh. Mungkin, di zaman sekarang hal tersebut lebih mendekati mustahil dibandingkan masuk akal. Tapi, tentang kepekaan naluri seorang yang buta, tentu saja hal tersebut sangat dapat diterima. Sama masuk akalnya dengan seorang tuli yang pandai menciptakan karya musik.

Namun ada lagi hal lain yang menarik. Tentang orang yang justru memiliki semua kelengkapan fisik manusia normal tapi tak tahu cara menggunakannya. Seolah-olah bagian tersebut hanya menempel saja pada tubuhnya. Inilah yang kita kenal sebagai orang bodoh. Yang memiliki tapi tidak menikmati, menguasai tapi tidak menaklukkan. Dan inilah yang terjadi pada umat yang mengabaikan kitab sucinya.

Marilah kita renungi sejenak. Kita semua sepakat bahwa Al Qur’an adalah petunjuk jalan. Bahkan jika kita orang yang paling tidak tahu sekalipun. Namun ketika pertanyaan itu dikembangkan, misalnya pertanyaan “Dengan cara apa Al Qur’an itu menunjuki jalan kita?”, maka disinilah kebanyakan kita berhenti dari menemukan jawabannya. Dan faktor penyebabnya nyaris selalu sama; kita tidak mengetahuinya karena kita tidak membacanya.

Al Qur’an secara lebih tegas mengumpamakan sikap semacam ini dalam surat Al Jumu’ah ayat 5, yang maknanya,

“Dan perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa Kitab-Kitab yang tebal. Amatlah buruk perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim”

Perumpamaan ini dikhususkan pada orang Yahudi dan Nashroni. Namun sikap mengabaikan atau meragukan kitab suci bisa terjadi pada umat manapun. Mudah-mudahan kita tidak termasuk di dalamnya. Karena orang yang baik adalah orang yang terus berusaha untuk menjadi lebih baik. Yang tidak berhenti belajar hanya karena dia bodoh. Yang tak berhenti bertaubat hanya karena ia berdosa.

Tatacara memahami Al Qur’an ada tahapan-tahapannya. Dan tahapan yang paling tinggi dari memahami Al Qur’an dalah Menafsirkan. Menafsirkan Al Qur’an memang tidak bisa dilakukan sembarang orang. Ada syarat dan aturan mainnya. Ada etika-etikanya. Namun membaca tafsir Al Qur’an berhak dan harus dilakukan setiap orang, jika ia ingin menjadikan Al Qur’an sebagai pedoman hidupnya. Sesungguhnya, ketika kita lebih bijak dalam bersikap, kita akan mendapatkan kenyataan bahwa keharusan memahami Al Qur’an bukan otoritas para ulama, dan memahaminya tidaklah sesulit yang dibayangkan jika mengikuti rambu-rambu dalam memahaminya.

Ketahuilah bahwa Allah memudahkan pemahaman Al Qur’an agar dapat diamalkan. Dan rambu-rambu kebenaran dalam memahaminya adalah dengan diutusnya Rasullah untuk menjelaskan Al Qur’an tersebut. Dan Rasulullah, yang merupakan manusia paling amanah di muka bumi ini, tidak menyembunyikan atau merubah sedikitpun wahyu yang disampaikan Allah kepadanya. Sehingga para sahabat-sahabat beliau yang mulia dapat mempelajarinya secara utuh, untuk kemudian mereka ajarkan lagi pada para Tabi’in mereka. Para Tabi’in mengajarkannya pada keturunan dan murid-murid mereka, baik pada ulamanya ataupun orang awamnya. Begitu pula salafush sholih menjaga akhlak mereka dari menyembunyikan kebenaran atau mencampurkannya dengan kebatilan.

Demikianlah ilmu itu sampai ke hadapan kita, sebagai panduan dalam menjalankan amanah kehidupan. Sehingga, setiap amal yang kita lakukan yang berpedoman pada tuntunan Al Qur’an, akan bernilai sebagai ibadah shohihah—ibadah yang benar. Dan semua pemahaman itu tentu saja dimulai dengan membaca dan mempelajarinya. Bagaimana mungkin kita meyakini kebenaran satu perkara yang tidak pernah kita ketahui? Dan bagaimana mungkin kita mengetahui sesuatu yang tak pernah kita pelajari?

Membaca adalah gerbang menuju ilmu pengetahuan. Begitulah seperti yang Allah perintahkan dalam surat pertama yang turun ke bumi. Kita tidak boleh memarginalkan pemahaman membaca ini khusus pada para Syaikh atau murid-murid madrasah syari’ah. Karena perintah membaca ini sifatnya universal. Ia menyentuh orang pandai dan orang bodoh. Ia menyentuh orang kaya dan orang miskin. Laki-laki maupun perempuan. Ia menyentuh semua kalangan yang sudah menerima perintah membaca ini. Keputusannya tergantung pada kita yang telah menerima seruan itu. Apakah kita mau memanfaatkan kekayaan ilmu Islam tersebut atau tidak. Ketidak mampuan tidak boleh menjadi alasan ketidak mauan. Dan kelemahan bukanlah alasan untuk sikap kemalasan.

Lantas, apa yang harus kita lakukan?

Mulailah membaca! Satu hal yang baik tidak akan diraih hanya dengan dibicarakan. Ia tidak akan menjadi kebaikan jika berhenti pada tatanan konsep. Jika dunia bisa berubah hanya dengan berpikir, tentu dunia ini tidak diperlukan lagi. Al Qur’an kita sangat kesepian karena terlalu lama menyendiri di sudut lemari. Mukanya sudah tidak bercahaya lagi karena terlalu dipenuhi debu. Padahal ia tidak diturunkan untuk sekedar dijadikan mahar. Ia juga tidak diturunkan untuk sekedar diukir di atas kanvas. Apakah selalu pembacaan Al Qur’an itu diselenggarakan didepan kain kafan? Ketika yang dbacakan sudah tak dapat mendengar dan melihat lagi? Jutaan nyawa telah berkorban hanya agar Al Qur’an tetap tinggi di atas kesucian kitab apapun. Apakah para pewarisnya hanya akan duduk dan diam menunggu?

Ketahuilah bahwa kejayaan tidak sama seperti hujan, yang tetap turun meski kita tidak memintanya. Kejayaan hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang berjuang…

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: